Tuesday, June 11, 2013

Wisata Satria, Kota Purwokerto

Posted by Admin Blog on Tuesday, June 11, 2013

Purwokerto memiliki lokasinya yang strategis, kota ini sangat layak untuk dijadikan pilihan wisata. Kota di lereng Gunung Slamet ini dinilai cocok menggantikan Jakarta karena letak gaeografisnya yang strategis. Kota ini selain dipenuhi keragamannya, juga sejak jaman kmerdekaan sudah dikenal berperan besar dalam Perjuangan Keedekaan Indonesia. Karena keunikannya inilah wisatawan tidak akan bosan untuk menikmati keindahan alam, budaya, dan sejarah dari kota Satria ini.

Musium Uang BRI, Musium Kaya Akan Sejarah 


Wisatawan di Purwokerto dapat mengunjungi Museum Uang BRI. Museum BRI ini berisi perjalanan perbankan (BRI) mulai berdiri sampai sekarang serta koleksi uang kuno mulai jaman Majapahit sampai dengan uang jaman sekarang. Bank Rakyat Indonesia untuk pertama kali didirikan oleh Raden Aria Wirjaatmadja pada 16 Desember 1895 dengan Nama De Purwokertche Hulp en Spaarbank der Inlandche Bestuurs Ambtenaren, yang selanjutnya pada tanggal 19 desember 1990 diresmikan langsung oleh direktur utama bank rakyat indonesia pada masa itu.

Keindahan Alam BATURADEN 


Bagi wisatawan asal Jabodetabek mungkin beranggapan bahwa obyek wisata ini mirip dengan Puncak, akan tetapi perbedaanya adalah Baturaden lebih banyak menawarkan wisata alam, yaitu antara lain Wanawisata, Curug Gede, Telaga Sunyi, Pancuran Pitu, Pancuran 3 (Telu), Goa Sarabada, Curug Ceheng, dll. Obyek wisata Baturraden ini terletak di kaki Gunung Slamet bagian selatan dengan ketinggian 640 m di atas permukaan laut. Udara di Baturraden ini sangat sejuk, dan pemandangannya pun sangat indah dan alamiah. Dari kota Purwokerto, jalan menuju Baturraden ini hanya sekitar 14 km menuju ke utara, dan dapat ditempuh dengan kendaraan umum.

Monumen Pangsar Soedirman, Mengenang Sang Jenderal


Untuk menghormati Kiprah perjuangan Soedirman di Kabupaten Banyumas yang sudah dimulai sejak pemerintah mulai merintis terbentuknya ketentaraan negara di Republik Indonesia yang baru berdiri. Pada tanggal 1 s.d 3 September 1945 para bekas perwira PETA, Heiho, Seinendan, KNIL di Kabupaten Banyumas bertemu untuk membicarakan perihal pembentukan Badan Keamanan Rakyat ( BKR ) Banyumas. Soedirman terpilih sebagai pimpinan umumnya, maka didirikanlah museum Panglima Besar Jenderal Soedirman yang Diresmikan pada tanggal 10 Oktober 2001, Museum Jenderal Soedirman kini megah berdiri.

Watu Sinom, Legenda Kamandaka


“Watu Sinom” yang menurut cerita adalah tempat bertemunya Kamandaka dengan adiknya yang telah bertahun-tahun diutus untuk mencarinya. Di batu sebesar rumah itulah mereka saling menantang untuk bertarung, karena mereka yang telah lama berpisah tidak saling mengenal. Kamandaka yang naik ke puncak batu tidak dapat disusul adiknya yang tidak dapat memanjat batu tersebut. Setelah saling tahu bahwa mereka adalah saudara, Kamandaka turun dan memeluk adiknya. Untuk mengenang peristiwa itulah nama desa di tempat itu diberi nama “Keniten” artinya pengingat. Tempat bersejarah di desa Keniten kecamatan Kedungbanteng, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah Indonesia dapat ditempuh dari pusat kota Purwokerto sekitar 20 menit ke arah barat laut.

Banaran, Sentra Pengrajin Bandol Banyumasan


Banaran dikenal sebagai Kampung yang penduduknya begitu kreatif mengubah bandol menjadi berbagai barang yang bisa dipakai, Bandol yang merupakan singkatan dari ban bodol atau dalam Bahasa Indonesia ban rusak, oleh penduduk sekitar biasa diolah kembali menjadi berbagai barang seperti sendal bandol, sendal kentongan, asbak, tempat sampah, pot tanaman, dll. Karena kualitasnya yang tinggi sehingga kebanyakan kerajinan mereka diekspor ke pasar luar negeri.

Sumber : http://bit.ly/ZH8CMF

Previous
« Prev Post

No comments:

Post a Comment